top of page
  • Writer: bukanplanetkita
    bukanplanetkita
  • May 8, 2019
  • 2 min read

Updated: May 26, 2019


wix gallery

Ternyata nih guys, kita juga harus berperilaku bijak ketika berada di hutan. Kira-kira apa aja yaa perilaku di hutan yang bisa dianggap bijak? Kuy simak sampe abis yaa..


  1. Tidak mencoret-coret batang pohon ataupun bebatuan di hutan, karena hal tersebut bisa merusak keindahan hutan sekaligus juga menyakiti pohon. Kalian juga gamau kan disakitin? Nah begitu juga dengan pohon. Tindakan mencoret-coret pohon bisa menutupi stomata (mulut daun) yang merupakan tempat keluar masuknya CO2 dan O2, hal itu akan berakibat fatal guys karena pertukaran udara dari sel tumbuhan ke lingkungan akan terganggu. Nah guys, jangan berani-berani nyakitin pohon yaa, terutama buat kalian para pendaki gunung yang katanya cinta sama alam, sayangi setiap pohon yang kalian temui ketika mendaki.

  2. Kalo kamu mau berkemah di hutan, gunakan tempat yang udah tersedia aja ya, misalnya bagian hutan yang agak lapang dan datar. Nah kalian nggak perlu nebang pohon, semak perdu, ataupun pohon kecil karena nunggu pohon tumbuh itu nggak kayak masak indomie. Begitu pun kalo kalian mau membuat api unggun, pakailah ranting-ranting atau daun-daun kering yang patah tumbuh yang hilang berganti, eh maksudnya ranting dan daun yang udah patah dan jatuh di tanah. Setelah itu jangan lupa padamkan api unggun kalo udah selesai. Pastikan benar-benar padam untuk menghindari kebakaran hutan. Dan jangan lupa bersihkan tempat bekas api unggun tersebut.

  3. Tidak meninggalkan sampah, terutama sampah plastik karena sampah plastik butuh waktu ratusan tahun buat terurai secara alami. Tapi apapun jenis sampahnya jangan ditinggalin ya guys, bawa sampahnya kemanapun kalian pergi sampai kalian nemu tempat sampah, oke? Dan lebih bagus lagi kalo kalian nemu sampah di hutan, diambil.

  4. Tidak melukai, menangkap, atau membunuh hewan penghuni hutan karena hal tersebut bisa mengganggu keseimbangan ekosistem hutan, terlepas apakah hewan langka yang dilindungi ataupun bukan.

  5. Tidak membawa pulang tumbuhan atau hewan dari hutan. Nah kalian nggak perlu yaa nangkep anak harimau buat oleh-oleh saudara karena hal tersebut juga bisa merusak ekosistem hutan. Simpanlah kenangan manis kamu selama berkemah di hutan di dalam foto dan video, terus upload deh ke instagram.


Nah kelima sikap bijak di atas keliatan sederhana dan simpel kan ya guys? Tapi dampaknya besar banget buat kelestarian hutan. Dengan berperilaku bijak seperti ini, kita sudah membuktikan bahwa kita mampu menikmati alam tanpa menyakitinya. So, jangan sekali-kali nyakitin bumi ini ya karena bumi ini bukan planet kita.



Ditulis oleh

Wahyu Dyah Safitri

  • Writer: bukanplanetkita
    bukanplanetkita
  • Apr 24, 2019
  • 3 min read

Updated: May 26, 2019


generasi3r.wordpress.com

Kalian pasti pernah menggunakan tisu kan? Mungkin malah tiada hari tanpa tisu yaa. Tisu, helaian kertas tipis dan lembut yang memiliki daya serap tinggi erat banget sama kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari aktivitas meja makan, cuci tangan, bepergian, sampai nangisin mantan *eh jangan deng, nggak penting*. Saking melekatnya tisu dengan kehidupan kita nih, kita sampe nggak sadar kalo kita jadi boros tisu dan menganggap perilaku tersebut adalah hal yang wajar. Padahal perilaku ‘boros tisu’ punya dampak yang gede banget terhadap hutan.


Awalnya, tisu hanya digunakan untuk toilet. Namun, sekarang tisu jadi digunakan dimana-mana. Produksi tisu pun terus meningkat dan berkembang dengan berbagai bentuk dan kemasan, sehingga lebih menarik masyarakat untuk menggunakan tisu. Hal tersebut menyebabkan konsumsi tisu, termasuk di Indonesia ke depannya akan terus meningkat.


Berdasarkan Penelitian WWF Indonesia dan creative agency Hakuhodo, 54 persen masyarakat Indonesia yang hidup di kota besar, memiliki kebiasaan menghabiskan tiga helai tisu untuk mengeringkan tangan. Hayo kamu juga yaa?


Koesnadi, Sekjen Serikat Hijau Indonesia mengatakan, “jika jumlah penduduk Indonesia 200 juta orang, dan setiap harinya mereka menggunakan setengah gulung tisu, artinya konsumsi tisu Indonesia setiap harinya adalah 100 juta gulung. Bila diasumsikan berat satu gulung tisu adalah seperempat kilogram, maka penggunaan tisu Indonesia dalam satu hari mencapai 25 ribu ton.”


Ngerii nggak ngebayangin berapa banyak pohon yang dibabat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tisu Indonesia setiap harinya? Miris banget karena satu pohon ternyata mampu menyediakan oksigen untuk 3 orang, dan juga menjadi penyerap karbon dan emisi. Jadi pilih pohon atau tisu?


Permintaan tisu yang terus meningkat ini berdampak pada hutan alami yang menjadi rumah bagi para satwa liar seperti Harimau Sumatera, Orangutan, Gajah Sumatera, dan spesies lainnya. Deforestasi yang terjadi di hutan Indonesia sebagian besar disebabkan oleh konversi hutan menjadi perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI). Di Sumatera, lebih dari 7 juta hektare hutan yang merupakan habitat Harimau Sumatera telah berubah menjadi perkebunan, dan kawasan HTI untuk kertas dan tisu. Sejak tahun 1985 hingga kini, hutan Sumatera terus menyusut dengan angka laju deforestasi sebesar 2,9 persen setiap tahunnya. Kini hanya tinggal 24 persen luas hutan alami yang tersisa di Sumatera, dan akan semakin menyusut jika permintaan komoditas hutan seperti tisu terus meningkat dan tidak terkendali.


Jika kita lihat lagi, konsumsi tisu di Indonesia sebenarnya belum sebesar negara lain, seperti negara barat. Tapi masa iya kita harus ikut-ikutan barat untuk boros tisu? Kita nggak perlu menunggu untuk melakukan hal postif untuk bumi kita kan? Apalagi ternyata tanpa kita sadari setiap helai tisu yang lembut itu adalah penentu nasib hutan dan satwa yang hidup di dalamnya.

Maka, mari kita sebagai konsumen dan pengguna tisu menjadi lebih bijak dalam menggunakan si putih tipis nan lembut ini, lebih baik lagi jika hanya menggunakan tisu yang sudah mendapat label hijau. Atau ya, berhemat. Gimana caranya? Setiap selesai mencuci tangan, kita bisa mengeringkan tangan dengan cara yang menyenangkan, yakni dengan melakukan #30claps, mungkin keren ya kalo dibikin challenge #30claps. Atau bisa juga dengan cara mengeringkan tangan kita menggunakan sapu tangan. Kalo kita kepepet banget butuh tisu, biasakan mengambilnya nggak lebih dari satu. Gunakan setiap helai tisumu dengan efektif.

Terakhir, mulailah membeli tisu yang berlabel ramah lingkungan. Label Forest Stewardship Council (FSC) merupakan simbol yang menandakan produk komoditas hutan yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab, baik secara lingkungan maupun sosial. Ini artinya, tisu yang Anda gunakan didapatkan dari hutan yang tidak merusak lingkungan, memperhatikan konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi karbon, rehabilitasi hutan, dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat, masyarakat sekitar hutan, dan juga hak pekerja.


Yuk jadi konsumen tisu yang bijak, penyelamat hutan, dan pahlawan bagi satwa bumi! Karena bumi ini bukan planet kita!


Ditulis oleh

Wahyu Dyah Safitri

  • Writer: bukanplanetkita
    bukanplanetkita
  • Apr 10, 2019
  • 1 min read

Updated: May 26, 2019


Kalian rindu hutan nggak? Kalo iya pas banget nih kalian mampir sini buat ikut menikmati hasil jepretan mbak Putri Normalita ini.


www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

www.putrinyanormal.com

Beliau menjepret foto-foto sebanyak dan sebagus ini karena beliau paham betul bahwa suatu hari nanti beliau akan rindu dengan tanah Borneo. Yap, foto-foto di atas diambil di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Katanya nih, harumnya hutan tropis di tanah borneo emang ngangenin bangett.

Dan FYI, foto-foto ini dijepret oleh Mbak Putri menggunakan Kamera Nikon D60 kesayangannya, yang meskipun udah lapuk ya, tapi masih bisa berfungsi dengan baik. Buktinya foto-fotonya kece banget kann? Pasti begitu liat foto-foto ini kalian langsung kangen hutan borneo! Sekalipun kalian belum pernah kesana.



Ditulis oleh

Wahyu Dyah Safitri

bottom of page