top of page
  • Writer: bukanplanetkita
    bukanplanetkita
  • Apr 24, 2019
  • 3 min read

Updated: May 26, 2019


Tanggal 16 April diperingati sebagai Hari Gajah Sedunia atau Hari Peduli Gajah Sedunia. Pasti kalian tau Gajah kan? Hehe. Gajah adalah makhluk hidup yang sangat indah. Ukuran mereka yang begitu besar, memastikan bahwa mereka tetap relatif aman di alam liar, meskipun tidak berada di atas rantai makanan. Di sisi lain, mereka juga makhluk yang sangat lembut yang tinggal dalam kawanan dan sangat peduli dengan kawanan mereka sendiri.


Namun keadaanya saat ini mulai terancam lohh. Salah satu jenis Gajah yang terancam ialah Gajah Sumatera. Menurut laporan Tahun 2018 , di Indonesia masih ada sekitar 1.700 ekor Gajah Sumatera. Selain karena terkikisnya habitatnya, jumlah gajah juga tertekan karena kurangnya dokter hewan yang mampu merawat gajah yang sakit.


Dalam enam tahun terakhir, Indonesia kehilangan 150 ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang membuat satwa ini sebagai satu-satunya sub spesies Gajah Asia yang terancam punah. Angka kematian 150 ekor gajah adalah jumlah yang tercatat, diperkirakan angka sebenarnya di lapangan jauh lebih tinggi.


Sekretaris Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Donny Gunaryadi dalam workshop konservasi gajah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta,akhir pekan lalu memperkirakan, dalam sepuluh tahun terakhir setidaknya ada 700 ekor Gajah Sumatera yang mati. Gajah-gajah tersebut diburu, diracun dan diambil gadingnya.


Data FKGI menyebutkan, tahun 1985 Indonesia masih memiliki 44 kantong habitat gajah di Sumatera. Tahun 2007, jumlahnya turun menjadi 25 kantong habitat, dengan hanya 12 kantong saja yang populasi gajahnya di atas 50 ekor. Lokasinya tersebar mulai dari Taman Nasional Leuser dan Ulu Masen di Aceh, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan Tesso Nilo di Jambi, Padang Sugihan di Sumatera Selatan dan Way Kambas serta Bukit Barisan di Lampung. Kasian ya gajah-gajah itu habitatnya makin berukurang aja.



Selain soal habitat dan perburuan manusia, gajah juga menghadapi persoalan penyakit mematikan. Serem banget deh bisa terkena penyakit mematikan gitu. Namun, menurut Dr Wisnu Nurcahyo dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, riset mengenai gajah di perguruan tinggi sangat minim. Mahasiswa kedokteran hewan tidak tertarik menjadi dokter bagi satwa langka. Pilihannya, mayoritas selalu pada jenis hewan peliharaan seperti anjing, burung, atau kucing dan sektor industri seperti ayam, kambing dan sapi.

Saat ini, Fakultas Kedokteran Hewan UGM bekerja sama dengan sejumlah pihak, juga sedang menyusun buku panduan mengenai gajah. Bagi pawang gajah (mahout) disusun buku panduan pengendalian untuk mendukung upaya pengembang-biakan. Sedangkan bagi dokter hewan, disusun buku panduan penanganan kesehatan gajah. Penyusunan buku ini didukung pendanaannya oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dalam progam Tropical Forest Conservation Act (TFCA).


Buku panduan ini penting, karena dapat menjadi rujukan dalam menangani Gajah Sumatera. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Dr Heru Setijanto, menitikberatkan pentingnya peningkatan kapasitas dokter hewan dan pawang. Buku panduan tersebut itu secara tidak langsung akan mendukung upaya konservasi dan peningkatan populasi gajah.


Kurangnya tenaga dokter hewan khusus bagi satwa langka dan dilindungi, seperti gajah, orangutan, badak maupun harimau, juga dikeluhkan drh Muhammad Wahyu. Dia adalah Direktur Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic) di Medan, Sumatera Utara.

Wahyu mengatakan konflik antara satwa liar dan manusia mayoritas menempatkan satwa sebagai korban. Gajah misalnya, mengalami luka akibat kekerasan maupun jeratan, dan sangat membutuhkan peran dokter hewan. Peran dokter juga diperlukan lebih jauh, misalnya dalam penyelidikan forensik untuk memahami penyebab kematian satwa itu. Namun, tidak cukup tersedia tenaga medis karena hanya pemerintah dan LSM yang memilikinya, itupun dalam jumlah yang sangat terbatas.


Gajah juga diserang sejumlah penyakit. Salah satunya adalah herpes (Elephant endotheliotropic heroesvirus) yang menyerang gajah berusia kurang dari 10 tahun. Penyakit kedua adalah tuberkolosis (TBC) yang menyerang banyak gajah di pusat penangkaran. Belum ada riset untuk mencoba menemukan obat bagi penyakit-penyakit itu, termasuk cara penanganannya.


Baca juga : Penyu Tindik

Oleh karena itu, Indonesia perlu mengambil langkah tegas dalam perburuan gading yang mendorong pembunuhan gajah. Setidaknya ada dua pola yang selama ini terjadi, yaitu perburuan disengaja dan konflik gajah dengan manusia yang memunculkan bisnis gading tapi bukan gading marten ya hehe. Pola pertama adalah upaya perburuan oleh pemburu profesional yang sengaja dilakukan untuk mengambil gading. Pola kedua, adalah matinya gajah karena konflik dengan manusia, dan terjadi pengambilan gading oleh masyarakat. Kedua pola ini harus diberantas.


Ditulis oleh

M. Rasyid Hilmy

  • Writer: bukanplanetkita
    bukanplanetkita
  • Apr 10, 2019
  • 2 min read

Updated: May 26, 2019


Kematian paus di wakatobi pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar darurat sampah plastik. Seekor paus sperma yang ditemukan dalam keadaan mati dan membusuk di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menggegerkan banyak pihak.


Terlebih, pada saat ditemukan di dalam tubuh paus itu terdapat sampah plastik sebanyak 5,9kg yang hamper setara dengan berat badan bayi usia 6 bulanan.





WWF Indonesia juga merincikan apa saja yang ditemukan di dalam perut paus tersebut, yaitu plastik keras (19 pcs, 140 gr), botol plastik (4 pcs, 150 gr), kantong plastik (25 pcs, 260 gr), sandal jepit (2 pcs, 270 gr), didominasi o/ tali rafia (3,26 kg), gelas plastik (115 pcs, 750 gr), gelas plastik aqua, frutang, mijon dingin-dingin yoo yang aus haha.


Temuan bangkai paus sepanjang 9,5 meter ini menimbulkan keprihatinan para aktivis lingkungan.

Hasil riset seorang bule bernama Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, pada tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia sebesar 187,2 juta ton. Artinya, Indonesia hanya kalah dari China yang menyumbang sampah plastik mencapai 262,9 juta ton. Hal ini membuat kita semua seharusnya malu dan menyesalinya, karena kita harusnya bisa menjadi nomer 1 mengalahkan China haha.


Engga deh bercanda, karena Indonesia telah berencana untuk mengurangi sampah plastik di laut sampai 75 persen pada 2025, beberapa pihak masih meragukan peraturan hukum yang cukup kuat untuk mewujudkannya. Terutama ketika sampah plastik dapat terbukti menjadi penyebab kematian paus sperma di Wakatobi ini.


Terlepas dari benar atau tidaknya sampah plastik sebagai pembunuh paus ini, kita tidak boleh menyalahkan pihak yang menjadi pelaku pembuangan sampah, seperti wisatawan atau warga sekitar. Tetapi jadikan peristiwa tersebut menjadi sebuah teguran bagi kalian semua terutama yang membaca artikel ini.



Ditulis oleh

M Rasyid Hilmy

  • Writer: bukanplanetkita
    bukanplanetkita
  • Apr 7, 2019
  • 2 min read

Updated: May 26, 2019


image source: daily.mail.uk

Saat main ke pantai atau laut, lalu membuang sampah dengan melemparnya ke laut, pernah nggak sih lu membayangkan kemana perginya sampah-sampah yang lu buang itu? Ke dasar laut? Belum tentu, bisa jadi sampah-sampah itu nyangkut ke makhluk laut yang tinggal di sana dan melukai mereka. Jangan menyepelekan ‘ah cuma plastic ini kok’ bisa menjadi pembenaran lu membuang sampah ke laut. Justru plastik ini bisa melukai dengan cara yang tidak lu sadari.


Pasti lu pernah nonton dong video penyu yang viral belakangan ini? Kalo lu belum nonton berarti lu kurang gawl cuyy.


Dalam video itu terlihat seekor penyu dengan tindikan plastik (sedotan plastik) dihidungnya, tapi tindikan plastik (sedotan plastik) ini bukan sengaja di buat oleh si penyu melainkan ulah-ulah manusia yang doyan buang sampah di laut.


Penyu dengan “tindikan” tersebut ditemukan oleh seorang bule yang bernama Christine Figgener dan kawan-kawan saat sedang mengumpulkan data tentang penyu laut. Setelah diketahui penyu itu mempunyai “tindikan” sekumpulan bule itu pun langsung melepas tindikannya menggunakan alat yang terbatas karena mereka sedang berada di tengah laut. Dengan menggunakan tang mereka menarik “tindikan” dari hidung si penyu dan ternyata setelah ditarik “tindikan” nya sepanjang 10cm cuyy kurang 5cm lagi buat jadi penggaris hehe.


Saat penarikan “tindikan” itu si penyu berdarah loh hidungnya.

Kalo lu udah nonton video itu terus bilang “kasian yaa penyunyaa”, “makanya jangan buang sampah ke laut”, tapi nyatanya lu masih suka menggunakan plastik dan buang sampah ga pada tempatnya. Malu sama kucing meong-meong haha.


Makanya dengan beralihlah ke sedotan stainless biar “tindikan” si penyu nya dari besi langsung ga pake plastik lagi hahaha. Salah ya? Nah makanya sedotan stainless nya jangan dibuang, toh bisa masih bisa di cuci dan dipakai berkali-kali kan.


Dan nggak cuma soal sedotan plastik aja yang harus kita minimalisir, tapi juga plastik-plastik lain, kayak plastik bekas bungkus lotek Kalipah Apo misalnya. Mending dimakan di tempat biar nggak perlu pake plastik ya kan.


Yuk kita sama-sama melakukan aksi diet kantong plastik dan no straw movement untuk menyelamatkan lingkungan kita, karena bumi ini bukan planet kita.



Ditulis oleh

M Rasyid Hilmy

bottom of page